Nabung Bisa Bikin Miskin

Posted by on Jun 6, 2015 in Trik & Tip | 0 comments

Nabung Bisa Bikin Miskin

Sejak masih kanak-kanak, orang tua Anda selalu menanamkan pandangan bahwa menabung pangkal kaya. ‘Semakin banyak Anda menabung, maka semakin Anda kaya kelak dikemudian hari,’ begitu dalih mereka.

Maka tak heran bila sejak usia dini Anda sudah diperkenalkan dengan berbagai produk tabungan. Dahulu ada yang bernama Tabanas (Tabungan Pembangunan Nasional), yang merupakan program tabungan umum yang diinisiasi pemerintah dan Tappelpram (Tabanas Pemuda, Pelajar dan Pramuka), yaitu tabanas khusus yang dilaksanakan secara kolektif melalui organisasi pemuda, sekolah dan satuan pramuka.

Memasuki booming sektor perbankan di akhir 80an, tabungan yang diinisiasi pemerintah meredup dan berganti tabungan yang merupakan produk bank, baik bak milik pemerintah maupun swasta. Tabungan saat itu hadir dengan berbagai inovasi baru, termasuk fasilitas tarik tunai menggunakan kartu ATM.

Intinya, dari dulu hingga kini menabung dipandang sebagai kegiatan yang lazim dan harus dilaksanakan bila Anda ingin dikemudian hari hidup berkecukupan bahkan kaya raya, gemah ripah loh jinawi.

Namun, perencana keuangan Aidil Akbar justru melawan pendapat umum bahwa menabung pangkal kaya. Dengan tegas ia menyebutkan bahwa menabung justru bikin miskin. Lho, bagaimana ini?

“ Mungkin banyak yang tidak setuju dengan pendapat saya. Tetapi itu sah-sah saja, kok,” ujar Aidil.

Menurut Aidil, andai Anda punya uang Rp100 juta dan dimasukan ke tabungan yang memiliki suku bunga, katakan saja 2%, maka hasil dari bunga dalam setahunnya sekitar dua juta rupiah, atau sama dengan Rp167 ribu (pembulatan keatas).

“Pertanyaan pertama adalah, kira-kira berapa besar kenaikan biaya hidup Anda per tahun sekarang? Kalau mengikuti angka dari pemerintah, antara 6,5%-8%. Pertanyaan selanjutnya, kira-kira berapa kenaikan harga barang-barang? Kalau di hitung rata-rata sekitar 12%-15%,” papar Aidil. “Artinya kalau kalau suku bunga tabungan hanya 2% per tahun, sementara kenaikan biaya hidup rata-rata 15% per tahun, berarti uang kita minus 13% per tahun.”

Aidil menyebutkan bahwa kalau cuma setahun mungkin belum begitu terasa berkurangnya, tetapi bagaimana kalau dalam jangka waktu 10 tahun?

“Hasil perhitungan saya menyebutkan bahwa penyusutan nilai uang Rp100 juta dalam 10 tahun dengan kenaikan 13%  – berasal dari perhitungan kenaikan biaya hidup real 15% dikurangi 2% bunga tabungan –  maka uang Anda akan menjadi hanya sebesar Rp 29,5 juta saja dalam waktu 10 tahun,” tegas Aidil.  “Artinya, kalau uang Anda dibelikan sesuatu hari ini bisa mendapatkan barang seharga Rp100 juta, kelak dalam 10 tahun lagi uang yang sama hanya bisa dapat barang seharga Rp30 juta saja (nilai saat ini).  Jadi terbukti, kan, bahwa menabung justru bikin Anda miskin.”

Untuk itu Aidil menyarankan agar Anda mau berinvestasi agar nggak menjadi miskin.  Tentu saja sebelum berinvestasi Anda harus mau belajar tentang investasi itu sendiri, agar tidak kejeblos. Karena ternyata banyak sekali komponen-komponen dalam berinvestasi yang harus Anda ketahui.

Ilmu tersebut menurut Aidil, dapat Anda dapatkan misalnya lewat workshop-workshop yang diselenggarakan para perencana keuangan. Anda tinggal mencari workshop yang sesuai dengan minat Anda dalam berinvestasi. (Antono Purnomo)

sumber : http://www.readersdigest.co.id/

Leave a Reply