Trik & Tip

Boleh Hemat tapi Jangan Pelit

Posted by on Jun 12, 2015 in Trik & Tip | 0 comments

Boleh Hemat tapi Jangan Pelit

Mengelola keuangan keluarga gampang-gampang susah. Gampang kalau pendapatan kita tak terbatas dan susah kalau untuk hidup sehari-hari saja rasanya kurang. Lepas dari gampang atau susah, keuangan keluarga harus dikelola dengan benar, kalau tidak mau terjebak dalam pelbagai kesulitan. Terlebih di masa-masa sulit seperti ini. Sekitar empat tahun lalu, ketika sedang berjalan-jalan di sebuah mal di Jakarta, asyik melihat-lihat toko-toko yang ada, saya seperti tersadar pada sesuatu. Mal – di mana pun itu – tak lain tak bukan seperti sebuah pasar. Tempat bertemunya penjual dan pembeli! Seketika saya sadar, ke mana pun saya pergi, orang-orang di sekitar kita sebetulnya penjual, yang sedang berusaha memindahkan uang dari dompet kita ke dompet mereka. Masalahnya, kita tidak sadar bahwa dalam sehari kita sering melakukan transaksi pemindahan uang dari dompet kita ke dompet orang lain dengan sangat cepat. Betul, beberapa dari transaksi itu memang betul kita butuhkan. Seperti membeli sembako, membayar uang parkir, membayar uang sekolah, sampai membayar listrik dan telepon. Akan tetapi yang menarik, sering beberapa transaksi yang kita lakukan tidak selalu untuk mendapatkan barang yang kita butuhkan. Misalnya, membeli ponsel terbaru yang kecanggihannya terlalu maju untuk zamannya sehingga banyak fitur-fitur di dalamnya tidak berguna padahal itu membikin ponsel bertambah mahal. Padahal, dalam pembelanjaan kita harus membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebenarnya mudah mengetahui perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Kebutuhan itu sesuatu yang harus dipenuhi, sedangkan keinginan tidak; Kebutuhan tidak selalu Anda inginkan, sementara keinginan tidak selalu Anda butuhkan; Kebutuhan umumnya ada batasnya, sementara keinginan umumnya tidak ada batasnya. Namun, justru keinginanlah yang sering membuat gaji seseorang ludes. Hemat tapi jangan pelit Mungkin Anda kemudian bertanya: bagian mana dari pengeluaran kita yang sebetulnya merupakan kebutuhan, dan bagian mana dari pengeluaran kita yang merupakan keinginan? Kalau Anda coba merinci pos-pos pengeluaran setiap bulannya, saya berani mengatakan bahwa setiap orang umumnya memiliki pos pengeluaran yang cukup banyak: sekitar 20 – 30 pos pengeluaran. Yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan? Saran saya, cobalah kelompokkan semua pos pengeluaran Anda menjadi empat bagian: (1) pos pengeluaran yang berkaitan dengan biaya hidup; (2) pos pengeluaran yang berkaitan dengan pembayaran cicilan utang; (3) pos pengeluaran yang berkaitan dengan premi asuransi; (4) pos-pengeluaran yang berkaitan dengan setoran tabungan. Dari keempat kelompok pengeluaran itulah Anda harus melakukan skala prioritas. Saran saya, prioritaskan pembayaran cicilan utang terlebih dahulu. Kemudian disusul setoran tabungan rutin. Lalu ketiga adalah premi asuransi. Terakhir biaya hidup. Ini adalah pengetahuan dasar tentang pembelanjaan yang harus dimiliki sebelum Anda mempelajari hal lain tentang pembelanjaan. Selain itu, hal lain yang harus diketahui juga adalah dengan mencoba mengetahui bagaimana cara bijak dalam mengeluarkan uang untuk setiap pos pengeluaran. Sebagai contoh, salah satu pos pengeluaran Anda yaitu membayar biaya telepon. Adalah bijak, misalnya, mengurangi frekuensi bicara Anda lewat telepon ke hal-hal yang memang lebih diperlukan, mengurangi frekuensi pemakaian internet, sampai pada mengatur pemakaian telepon oleh anak-anak Anda. Itu baru telepon. Pos lain adalah listrik. Coba pelajari bagaimana Anda bisa lebih hemat dalam membayar biaya listrik. Apakah perlu menggunakan bola lampu yang lebih hemat, apakah dengan mengurangi pemakaian listrik secara bersamaan di malam hari? Hal-hal semacam inilah yang seyogianya dikuasai sehingga Anda tahu bagaimana mengeluarkan uang secara bijak untuk setiap pos tersebut. Cuma mesti diingat, bijak yang berkorelasi dengan hemat ini jangan sampai membuat Anda pelit. Harus dibedakan antara hemat yang pelit, dengan hemat yang kreatif. Hemat pelit misalnya hemat yang dilakukan dengan cara memaksa, enggak masuk akal. Sebagai contoh, seseorang tinggal sekitar 10 km dari rumah ke kantornya. Hanya karena ingin hemat, dia berjalan kaki. Padahal dia punya uang untuk membayar ongkos transportasi umum. Cuma mungkin bukan alat transportasi pribadi seperti taksi, tapi bus atau mikrolet, misalnya. Jadi, pengertian hemat harus diluruskan: hemat...

Read More

3 Cara untuk Berhemat

Posted by on Jun 6, 2015 in Trik & Tip | 0 comments

3 Cara untuk Berhemat

“Duh, saya boros banget!” begitu keluhan banyak orang tentang kebiasaan mengeluarkan uang. Dari mengeluarkan uang untuk hal-hal yang memang esensial dan penting, sampai untuk hal-hal yang tidak penting, tidak terencana, dan tidak “mengancam nyawa”. Setiap gajian, banyak pula dari Anda yang berjanji untuk tidak boros di bulan ini. Namun pada kenyataannya pemborosan terus berulang-ulang terjadi, untuk hal-hal yang juga dikeluhkan boros pada bulan sebelumnya. Padahal, dengan langkah cepat, pemborosan dapat Anda tindas. Yang penting Anda punya komitmen untuk menghentikan pemborosan. Artinya, Anda harus punya sikap sukarela melepas kegiatan pemborosan, yang sesungguhnya Anda selama ini tahu bahwa itu salah. Atau paling tidak suara hati Anda yang berkata bahwa pemborosan yang Anda lakukan salah. Simak 3 langkah berikut agar upaya berhemat Anda berjalan sukses: Tinggalkan kartu kredit di rumah. Kalau Anda keluar rumah dengan membawa dompet berisi kartu kredit, itu berarti kemungkinan Anda menggunakan kartu itu – apalagi kalau Anda saat itu tidak punya uang sungguhan – sangat besar. Dorongan untuk melakukan pengeluaran secara impulsif bakal sangat besar dan tak tertahankan, membuat Anda enteng saja menggesek kartu kredit. Alih-alih membawa kartu kredit, bawalah kartu debet. Setidaknya, ketika hendak menggunakan, Anda masih dipaksa berpikir berapa saldo yang ada di dalam rekening bank Anda. Keinginan untuk melakukan pengeluaran impulsif niscaya bakal padam begitu Anda mulai berpikir keras mengenai saldo rekening bank. Tunda pembelian. Ini pertempuran antara needs dan wants, alias kebutuhan Vs. keinginan. Seringkali apa yang sebetulnya merupakan keinginan menyamar menjadi sesuatu yang diberi nama kebutuhan. Dan kebutuhan itu penting dipenuhi, bukan? Nah, agar Anda bisa memilah dengan cermat mana yang kebutuhan sungguhan dan mana yang hanya sekadar keinginan, tunda saja pembelian selama 30 hari. Dalam 30 hari itu berjanjilah untuk selalu fokus memikirkan apa yang terjadi bila Anda tidak membeli barang tersebut, dan apa yang terjadi ketika Anda membeli barang tersebut, dan lakukan perbandingan harga. Dan ketika setelah 30 hari ternyata Anda masih menginginkannya, silakan beli. Tetapi setidaknya Anda sudah membantu arus kas pribadi Anda selamat selama 30 hari tersebut. Atau, justru barang itu sudah laku. Buat kelompok dukungan. Apabila resolusi tahun baru Anda adalah mengurangi pemborosan yang selama ini Anda lakukan, dan resolusi ini berulang dari tahun ke tahun namun gagal Anda laksanakan, mungkin karena Anda tidak punya kelompok dukungan. Memberitahu orang lain tentang resolusi Anda ibarat Anda berteriak menghadap ke tebing: gemanya akan kembali kepada Anda. Lakukan berulang kali pada kelompok dukungan – bisa keluarga, teman sepermainan atau teman kantor – maka Anda akan memperkuat gema itu dan menciptakan kepercayaan diri Anda untuk menaati gema itu. Kelompok dukungan juga sangat efektif untuk mengawasi dan menasehati ketika Anda keluar jalur. (Antono...

Read More

Nabung Bisa Bikin Miskin

Posted by on Jun 6, 2015 in Trik & Tip | 0 comments

Nabung Bisa Bikin Miskin

Sejak masih kanak-kanak, orang tua Anda selalu menanamkan pandangan bahwa menabung pangkal kaya. ‘Semakin banyak Anda menabung, maka semakin Anda kaya kelak dikemudian hari,’ begitu dalih mereka. Maka tak heran bila sejak usia dini Anda sudah diperkenalkan dengan berbagai produk tabungan. Dahulu ada yang bernama Tabanas (Tabungan Pembangunan Nasional), yang merupakan program tabungan umum yang diinisiasi pemerintah dan Tappelpram (Tabanas Pemuda, Pelajar dan Pramuka), yaitu tabanas khusus yang dilaksanakan secara kolektif melalui organisasi pemuda, sekolah dan satuan pramuka. Memasuki booming sektor perbankan di akhir 80an, tabungan yang diinisiasi pemerintah meredup dan berganti tabungan yang merupakan produk bank, baik bak milik pemerintah maupun swasta. Tabungan saat itu hadir dengan berbagai inovasi baru, termasuk fasilitas tarik tunai menggunakan kartu ATM. Intinya, dari dulu hingga kini menabung dipandang sebagai kegiatan yang lazim dan harus dilaksanakan bila Anda ingin dikemudian hari hidup berkecukupan bahkan kaya raya, gemah ripah loh jinawi. Namun, perencana keuangan Aidil Akbar justru melawan pendapat umum bahwa menabung pangkal kaya. Dengan tegas ia menyebutkan bahwa menabung justru bikin miskin. Lho, bagaimana ini? “ Mungkin banyak yang tidak setuju dengan pendapat saya. Tetapi itu sah-sah saja, kok,” ujar Aidil. Menurut Aidil, andai Anda punya uang Rp100 juta dan dimasukan ke tabungan yang memiliki suku bunga, katakan saja 2%, maka hasil dari bunga dalam setahunnya sekitar dua juta rupiah, atau sama dengan Rp167 ribu (pembulatan keatas). “Pertanyaan pertama adalah, kira-kira berapa besar kenaikan biaya hidup Anda per tahun sekarang? Kalau mengikuti angka dari pemerintah, antara 6,5%-8%. Pertanyaan selanjutnya, kira-kira berapa kenaikan harga barang-barang? Kalau di hitung rata-rata sekitar 12%-15%,” papar Aidil. “Artinya kalau kalau suku bunga tabungan hanya 2% per tahun, sementara kenaikan biaya hidup rata-rata 15% per tahun, berarti uang kita minus 13% per tahun.” Aidil menyebutkan bahwa kalau cuma setahun mungkin belum begitu terasa berkurangnya, tetapi bagaimana kalau dalam jangka waktu 10 tahun? “Hasil perhitungan saya menyebutkan bahwa penyusutan nilai uang Rp100 juta dalam 10 tahun dengan kenaikan 13%  – berasal dari perhitungan kenaikan biaya hidup real 15% dikurangi 2% bunga tabungan –  maka uang Anda akan menjadi hanya sebesar Rp 29,5 juta saja dalam waktu 10 tahun,” tegas Aidil.  “Artinya, kalau uang Anda dibelikan sesuatu hari ini bisa mendapatkan barang seharga Rp100 juta, kelak dalam 10 tahun lagi uang yang sama hanya bisa dapat barang seharga Rp30 juta saja (nilai saat ini).  Jadi terbukti, kan, bahwa menabung justru bikin Anda miskin.” Untuk itu Aidil menyarankan agar Anda mau berinvestasi agar nggak menjadi miskin.  Tentu saja sebelum berinvestasi Anda harus mau belajar tentang investasi itu sendiri, agar tidak kejeblos. Karena ternyata banyak sekali komponen-komponen dalam berinvestasi yang harus Anda ketahui. Ilmu tersebut menurut Aidil, dapat Anda dapatkan misalnya lewat workshop-workshop yang diselenggarakan para perencana keuangan. Anda tinggal mencari workshop yang sesuai dengan minat Anda dalam berinvestasi. (Antono Purnomo) sumber :...

Read More

Menabung Itu Mudah

Posted by on Jun 6, 2015 in Trik & Tip | 0 comments

Menabung Itu Mudah

Prinsip menabung sesungguhnya sudah diajarkan oleh nenek moyang kita dalam bentuk lumbung padi. Mereka selalu menyisihkan hasil panen untuk disimpan di lumbung. Selain lumbung keluarga, terdapat pula lumbung komunal, alias milik desa, yang isinya disumbangkan secara sukarela oleh setiap keluarga yang memiliki lumbung. Kalau nenek moyang kita saja sudah mengenal prinsip menabung, dengan segala keterbatasan, mosok kita sebagai manusia yang jauh lebih modern justru tidak mampu menjalankan prinsip tersebut dalam kehidupan kita? Apalagi ternyata menabung semakin penting dan perlu dijalankan. Langsung sisihkan. Kegagalan utama dalam menabung adalah berniat menabung uang yang menjadi sisa semata. Runyamnya, pada saat tidak ada sisa uang, maka Anda gagal menabung. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya sejak awal Anda sudah menyisihkan uang untuk ditabung. Misalnya, Anda memutuskan untuk menabung 10 persen dari gaji atau hasil panen, sehingga, begitu Anda terima gaji atau memperolh hasil panen, langsung dipotong 10 persen untuk ditabung. Setelah itu, lupakan bahwa Anda sudah Anda tabung. Kumpulkan kembalian. Sering menerima recehan saat parkir di mal atau makan di restoran? Bawa kembali diri Anda ke dunia kanak-kanak saat orang tua mengajarkan untuk nyelengi alias menabung di celengan. Artinya, masih sangat relevan bagi Anda untuk emiliki celengan khusus recehan dari uang kembalian. Caranya simpel, setiap pulang dari bepergian, kosongkan kantong celana atau baju Anda. Uang receh yang Anda temukan segera dimasukkan ke celengan. Supaya seru, libatkan anggota keluarga, seperti anak Anda, dengan beberapa celengan yang memiliki beberapa tujuan. Misalnya celengan ‘buku untuk kakak’ atau ‘mainan untuk adik’ atau tujuan yang lebih besar seperti ‘sepeda untuk kakak. Alihkan sesuai kebutuhan. Cicilan kredit mobil atau kartu kredit Anda akhirnya lunas, dan sekarang ada dana “menganggur”? Nah, saat-saat seperti ini dibutuhkan komitmen kuat untuk tetap fokus pada kegiatan menabung. Anggap saja uang ini sebagai “uang hilang” yang tidak perlu Anda pikirkan lagi, sehingga langsung cemplungkan ke tabungan. Suatu waktu Anda akan mengambil kredit untuk keperluan lain, Anda sudah punya sejumlah dana “kagetan” yang tinggal disesuaikan besarnya menurut kebutuhan baru tersebut.. (Antono Purnomo) sumber :...

Read More